Keinginan ini melebihi rengek gadis kecil meminta kembang gula. Ada mimpi-mimpi kecil memenuhi gelembung awan dalam benak. Aku tahu ini tidak mudah. Satu persatu kerabat datang dengan lembar perceraian atau masih serupa niatan.
Agungnya mahligai pernikahan runtuh hanya oleh mendung, sementara suramnya justru ramuan emosi belaka. Atas nama ego pribadi. Belum juga hujan, bisa saja payung dibentang, tapi banyak yang lari pulang. Memilih diam dalam kandang, meski harus sendiri!
Apakah lupa?
Selama nyawa masih menemani raga, langit pun masih bergantian melukis mendung dan terik.Kenapa sibuk berteduh?
Aku ingin menikah!
Bodoh benar menolak gerimis dengan menyingkir? Lantas bersombong diri bahwa gaunnya anti air?? Apa hebatnya menang tanpa berjuang? Apa hebatnya mengalahkan kawan hidup?Sendiri dianggap solusi?!
Sendiri itu simbol kebebasan? Bukan!
Kebebasan adalah jiwa yang tak terjajah. Tangis dan tawa mengalir lantaran ingin. Sendiri atau berpasangan, kebebasan lebih pada mensyukuri pilihan hidup. Tentang apa atau siapa.
SEDERHANA, itu rancangan mimpi pernikahan kita .
Tanpa pesta berlebih, tanpa istana kaca, tanpa kuda putih, tanpa brankas baja. Hanya Kau dan Aku, apa adanya!
Jangan takut sayang…
Aku punya penangkal petir. Lebih dari itu kita pikirkan bersama. Kau, Aku dan Tuhan…
Jangan acuhkan dulu mimpi sekitar, ini tentang kita bukan?
Aku cuma minta kau untuk setia dan akan ku beri kau makan 3X sehari. itu saja!
Mungin bukan saat ini untuk menikahimu Bukan soal kau. Bukan karena Aku, dan bukan pula karena kita hanya sedang sibuk. Sibuk memutar otak, mencari celah merubah peluh jadi rupiah.Tapi karena mimpi mimpi orang sekitar yang menganggap mimpi mereka demi kebahagiaan kita
“Tolong, tunggu sampai aku, ya sayang!”tunggu setelah kita hijrah ke jalanNYa
Setelah itu…
beri aku anak! semirip kita tentunya.
sayang…

Entries (RSS)